Aliansi BEM Banten Bersatu: Kritik Harus Dibangun dengan Data dan Moral

Aliansi Bem Banten Bersatu
Aliansi Bem Banten Bersatu

Jakarta – Aliansi BEM Banten Bersatu mengajak seluruh elemen pemuda dan mahasiswa untuk tidak melupakan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andri Yunus yang hingga saat ini dinilai masih menyisakan banyak pertanyaan publik. Di tengah menurunnya intensitas pemberitaan dan perhatian masyarakat, Aliansi BEM Bersatu menilai bahwa perjuangan mengawal keadilan tidak boleh berhenti hanya karena isu tersebut perlahan tenggelam dari ruang media.

Menurut Aliansi BEM Bersatu, mahasiswa dan generasi muda harus tetap kritis melihat perkembangan situasi nasional, khususnya terkait semakin kuatnya gejala militerisme di ruang sipil. Fenomena tersebut dinilai semakin nyata ketika institusi militer mulai masuk dan mengerjakan berbagai sektor yang sejatinya menjadi domain sipil. Kondisi ini dipandang sebagai alarm serius bagi demokrasi dan supremasi sipil di Indonesia.

Aliansi BEM Bersatu menyoroti sejumlah program pemerintah yang belakangan banyak melibatkan unsur militer, mulai dari program MBG hingga Kopdes Merah Putih. Program-program tersebut dinilai bukan hanya memunculkan polemik terkait tumpang tindih kewenangan, tetapi juga sarat persoalan di lapangan. Mulai dari implementasi yang tidak jelas, lemahnya pengawasan, hingga munculnya dugaan korupsi dan penyelewengan anggaran yang semakin memperburuk kepercayaan publik terhadap tata kelola program negara.

“Jangan sampai masyarakat dibuat lupa. Ketika perhatian publik menurun, justru di situlah potensi penyalahgunaan kekuasaan semakin besar terjadi. Mahasiswa harus tetap menjadi penjaga ingatan publik dan pengontrol jalannya demokrasi,” demikian sikap yang disampaikan Aliansi BEM Bersatu.

Aliansi BEM Bersatu menilai bahwa reformasi yang diperjuangkan sejak 1998 lahir untuk memastikan adanya pembatasan yang jelas antara ranah sipil dan militer. Karena itu, berbagai bentuk perluasan peran militer di sektor sipil harus terus dikritisi secara terbuka dan objektif agar tidak berkembang menjadi praktik yang mengancam demokrasi dan partisipasi masyarakat sipil.

Meski demikian, Aliansi BEM Bersatu juga mengingatkan bahwa perjuangan mahasiswa harus tetap dilakukan secara intelektual, terukur, dan berlandaskan nilai perjuangan moral. Kritik harus dibangun dengan data, argumentasi, dan keberanian berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan melalui tindakan anarkhis yang justru merusak substansi gerakan itu sendiri.

Momentum ini, menurut Aliansi BEM Bersatu, harus menjadi pengingat bahwa tugas mahasiswa bukan sekadar mengikuti isu yang sedang ramai diperbincangkan, melainkan konsisten mengawal persoalan bangsa hingga benar-benar menemukan titik keadilan dan perbaikan. Generasi muda diminta tidak apatis terhadap ancaman kemunduran demokrasi, sebab masa depan bangsa sangat ditentukan oleh keberanian anak muda dalam menjaga nilai reformasi dan supremasi sipil.

Pos terkait