Jakarta – Front Aksi Mahasiswa Universitas Pamulang (FAM-Unpam) mengajak seluruh elemen pemuda dan mahasiswa untuk tidak terlena serta kehilangan fokus dalam mengawal kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andri Yunus yang diduga dilakukan oleh oknum anggota BAIS. Di tengah mulai menurunnya perhatian publik dan pemberitaan media, mahasiswa menilai bahwa kasus tersebut tidak boleh dibiarkan tenggelam begitu saja karena menyangkut masa depan demokrasi, kebebasan sipil, serta keberanian masyarakat dalam menyuarakan kritik terhadap kekuasaan.
Mahasiswa Unpam menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap aktivis tidak dapat dipandang sebagai persoalan biasa. Peristiwa tersebut dinilai sebagai ancaman serius terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Ketika seorang aktivis mengalami serangan brutal setelah aktif menyuarakan kritik dan isu HAM, maka publik patut mempertanyakan sejauh mana negara hadir melindungi hak warga negara untuk bersuara secara bebas dan aman.
Menurut Mahasiswa Unpam, dugaan keterlibatan oknum anggota BAIS dalam kasus tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa terdapat gejala meningkatnya praktik intimidasi terhadap kelompok kritis di ruang sipil. Kondisi ini dinilai mengingatkan publik pada pola-pola represif masa lalu, ketika kritik dibungkam melalui tekanan, ketakutan, dan kekerasan. Fenomena tersebut dianggap sebagai sinyal munculnya gejala Neo Orde Baru yang harus diantisipasi sejak dini oleh seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda.
“Mahasiswa dan pemuda jangan sampai lupa. Ketika kasus seperti ini dibiarkan hilang dari perhatian publik, maka itu menjadi ruang nyaman bagi praktik intimidasi dan pembungkaman untuk terus terjadi. Demokrasi tidak boleh dibangun di atas rasa takut,” demikian sikap yang disampaikan Mahasiswa Unpam.
Mahasiswa Unpam juga menilai bahwa reformasi 1998 lahir dari perjuangan panjang untuk memastikan supremasi sipil, kebebasan berpendapat, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia. Oleh karena itu, setiap indikasi penyalahgunaan kekuasaan maupun tindakan represif terhadap aktivis harus dikawal secara serius agar Indonesia tidak kembali mundur ke pola pemerintahan yang otoriter.
Meski menyampaikan kritik keras, Mahasiswa Unpam tetap mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk mengawal isu tersebut melalui gerakan yang intelektual, terukur, dan bermartabat. Diskusi publik, kajian, advokasi, konsolidasi gerakan, hingga aksi penyampaian pendapat tetap harus dilakukan secara damai dan konstitusional agar substansi perjuangan tidak hilang akibat tindakan kontraproduktif.
Mahasiswa Unpam menegaskan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga arah demokrasi Indonesia tetap berada pada jalur reformasi. Kasus Andri Yunus, menurut mereka, bukan hanya tentang satu individu, melainkan simbol perlawanan terhadap segala bentuk intimidasi, kekerasan, dan upaya pembungkaman terhadap suara kritis rakyat.





